Kompetisi, Cara Baru Marketing 2.0
Rabu, 3 Maret 2010 | 06:33 WIB
Di dunia internet, lahir istilah Web 2.0 yang dicetuskan oleh Tim O’Reilly, sang pendiri ’Reilly Media. Angka dua titik nol itu hanya menjadi penanda bahwa kita memasuki era baru yang berbeda dari kebiasaan konvensional. Dalam Web 2.0, partisipasi komunitas adalah sesuatu yang utama, melebihi suara pemilik situs web tersebut. Tak ada lagi berita yang dimonopoli oleh agen pemberitaan, tak ada lagi press release dari humas perusahaan yang dipercaya.
Suara dan partisipasi komunitaslah yang berpengaruh menentukan persepsi dan pilihan pendapat masyarakat. Dalam konteks benar atau salah, Web 2.0 memang bukan segala-galanya. Namun, mari kita lewati momentum Web 2.0 ini yang menurut O’Reilly puncaknya tahun ini.
Istilah Marketing 2.0 juga merujuk pada semangat revolusi untuk membuat sesuatu yang berbeda. Dengan fokus pada budaya internet yang semakin kental di masyarakat, Marketing 2.0 yang melibatkan partisipasi komunitas menjadi krusial saat ini.
Sabtu (27/2) di Jakarta, sebuah kompetisi pemasaran yang digelar produsen notebook Axioo bekerja sama dengan Intel diumumkan para pemenangnya. Kompetisi bernama Axioo Intel Marketing Awards ini melibatkan tim-tim dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dengan hadiah yang cukup serius: total Rp 1 miliar.
Terpilih empat pemenang, yaitu Most Voted Team dari Universitas Lampung dengan hadiah uang Rp 50 juta, Best Sales Team diraih tim dari Universitas Gadjah Mada dengan hadiah uang Rp 75 juta, Best Idea diraih tim dari Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya dengan hadiah uang Rp 85 juta, dan Best of The Best diraih oleh Universitas Brawijaya dengan hadiah uang Rp 100 juta.
Selain hadiah uang, mereka juga mendapat hadiah berupa barang, yang salah satunya adalah notebook dan netbook produk Axioo. Selain pengumuman pemenang, malam itu Axioo juga meresmikan situs untuk para komunitas dengan nama axioooutofthebox.com.
Dari sisi hadiah, inilah salah satu kompetisi bergengsi di Indonesia. Menyelam sambil minum air, tampaknya selain untuk mendongkrak brand Axioo, kegiatan ini juga ditujukan untuk sarana menyalurkan dana corporate social responsibility (CSR).
Samuel Lawrence, CEO Axioo, mengakui bahwa kegiatan kompetisi dan peluncuran portal web komunitas ini bisa mendongkrak Axioo dari sisi pencitraan brand, terutama dampak marketing word of mouth benar-benar dirasakan dari ajang kompetisi ini.
”Tentu saja word of mouth ini yang kami harapkan terjadi,” kata Samuel. Mereka, tim-tim itu, harus melakukan presentasi tentang ide pemasaran yang dimiliki. Mereka juga diwajibkan ikut voting online dan mengajak teman- temannya untuk terlibat juga.
Para tim juga diajak untuk mempromosikan dan memasarkan produk Axioo dan setiap penjualan ter-update di database Axioo. ”Kendala terbesar dalam memasarkan produk Axioo adalah karena brand Axioo ini belum dikenal luas masyarakat. Jadi, kami harus menjelaskan kepada masyarakat,” begitu kata seorang peserta kompetisi ketika menjawab pertanyaan juri.
Untuk menggalang kekuatan penyebaran penyadaran brand di dunia internet, Samuel memang menjadikan portal web tersebut sebagai ajang yang tepat untuk promosi. Tentu dengan teknik berbagai kompetisi agar menarik minat para peserta.
”Infrastrukturnya sudah kami siapkan, tinggal digunakan. Brand-brand lain juga bisa memanfaatkan infrastruktur ini untuk advokasi brand mereka,” kata Samuel. Berdasarkan data Samuel, hanya empat bulan didirikan, komunitas itu sudah berkembang hingga 50 orang yang terdaftar.
Penggalangan komunitas adalah kata kunci yang kini sedang digadang-gadang oleh para pemilik brand yang sadar akan pencitraan ke depan. Anak-anak muda adalah target utama mereka karena merekalah generasi penerus yang akan menentukan dipakai tidaknya brand produk mereka.
Untuk menggalang kekuatan komunitas, modalnya memang tak murah. Kini tinggal memilih, apakah mengandalkan marketing tersentralisasi dari ”humas-marcomm” ataukah sudah menuju Marketing 2.0 yang melibatkan partisipasi komunitas?
Jika setuju dengan Marketing 2.0, ayo bangun sesuatu yang bermanfaat untuk anak-anak muda Indonesia. Jangan hanya mau konsepnya, tetapi tak mau keluar dana untuk anak-anak muda kita, he-he-he. (AMR)
sumber : kompas.com
No comments yet.





